
Memiliki bentuk tubuh dengan berat ideal (proporsional) merupakan impian kebanyakan orang. Disamping menunjang penampilan dan meningkatkan rasa percaya diri, bentuk tubuh proporsional secara langsung berkontribusi dalam meningkatkan kesehatan tubuh. Banyak penelitian melaporkan bahwa dengan memiliki bentuk tubuh proporsional seseorang akan terhindar dari berbagai jenis penyakit, seperti darah tinggi, diabetes, jantung koroner, osteoporosis, dan kanker. Oleh karena itu, beragam carapun dilakukan, mulai dari mengatur dan menjaga pola makan, berolahraga secara rutin, hingga mengkonsumsi obat penurun berat badan. Sampai saat ini sebagian besar orang percaya bahwa mengatur dan menjaga pola makan sehari-hari merupakan pilihan bijaksana bagi diet sehat tubuh. Pengaturan dalam pola makan ini tidak hanya dengan makan secukupnya saja, tetapi yang terpenting adalah bagaimana kita memperoleh dan menseleksi produk pangan jenis apa yang akan dikonsumsi. Oleh kemajuan teknologi di bidang pangan, sekarang ini telah banyak ditemukan berbagai jenis produk olahan pangan yang dapat dijadikan acuan diet sehat, salah satunya adalah pangan fungsional (functional foods).
Pangan fungsional adalah pangan olahan yang mengandung satu atau lebih komponen fungsional (bioaktif) yang berdasarkan kajian ilmiah mempunyai fungsi fisiologis tertentu, terbukti tidak membahayakan dan bermanfaat bagi kesehatan. Disamping mengandung komponen gizi dasar (karbohidrat, lemak, protein, vitamin, dan mineral), komponen bioaktif yang terdapat pada pangan fungsional disebut juga dengan komponen non gizi yang terdiri dari bermacam-macam jenis. Komponen-komponen tersebut meliputi serat pangan (deitary fiber), asam lemak tidak jenuh (polyunsaturated fatty acids), protein tertentu, polifenol, kolin dan lesitin, fitosterol, bakteri asam laktat, serta jenis vitamin dan mineral tertentu. Beberapa contoh produk pangan yang termasuk kriteria pangan fungsional adalah susu dan produk-produk susu (yoghurt, yakult, kefir), minuman (jus buah, prebiotik, probiotik, teh), serealia (gandum, padi, jawawut, sorghum, kacang-kacangan (kedelai, kacang hijau), buah-buahan, dan sayuran. Indonesia sendiri sebenarnya memiliki beberapa komoditi pangan lokal (indigenus) yang dapat disebut sebagai pangan fungsional, diantaranya adalah tempe, temulawak, jamu, kunyit asam, minuman beras kencur, bandrek, dan dadih (susu fermentasi dari Sumatera Barat).
Secara umum setiap harinya tubuh memerlukan sekitar 60 – 70% karbohidrat, 10 – 15% protein, dan 20 – 25% lemak, dengan kebutuhan kalori berbeda-beda pada setiap orang yaitu berkisar antara 2500 – 4500 kalori. Jika terkonsumsi berlebih maka tubuh akan menyimpannya dalam bentuk lemak dalam jaringan otot. Hal inilah yang kemudian lama-kelamaan akan menyebabkan bertambahnya berat tubuh (obesitas). Pelaku diet sehat sangat disarankan menghindari konsumsi produk-produk pangan tidak sehat (junk foods). Oleh karena selain rendah nutrisi, junk foods mengandung kadar lemak jenuh tinggi sehingga sangat berbahaya bagi kesehatan. Khusus bagi penderita obesitas, asupan konsumsi karbohidrat dan lemak sehari-hari harus dibatasi dan diawasi secara ketat, dan perbanyaklah konsumsi serat pangan. Menurut Badan Kesehatan Dunia (WHO) beberapa jenis produk pangan yang tergolong junk foods adalah produk pangan gorengan, pangan kemasan, asinan, daging yang telah mengalami pengolahan (ham, sosis), jeroan daging, produk olahan keju (cake), mi instan, bahan pangan yang dibakar/dipanggang, manisan beku (es krim), dan produk pangan manisan kering. Pelaku diet sehat dianjurkan untuk sesering mungkin mengkonsumsi bahan pangan segar. Hal ini karena dalam kondisi segar komposisi zat gizi dan nutrisi yang terkandung masih sangat lengkap dibandingkan produk pangan kemasan (instan) yang telah mengalami pengawetan. Disamping itu lakukan aktivitas-aktivitas positif seperti berolahraga secara teratur, karena dengan berolahraga akan mendorong tubuh untuk lebih aktif memecah kandungan lemak yang tersimpan berlebih dalam jaringan otot.
sumber:
http://www.medicalera.com/share_form.php?id=19616